Lansia yang mengalami kesulitan buang air besar (BAB) merupakan kondisi yang cukup sering terjadi, terutama pada mereka yang memiliki keterbatasan aktivitas atau penyakit tertentu. Kondisi ini sering dianggap sepele, padahal jika dibiarkan dapat menimbulkan ketidaknyamanan hingga komplikasi serius.
Melansir dari World Health Organization (WHO), masalah pencernaan seperti konstipasi lebih sering terjadi pada usia lanjut karena perubahan fungsi tubuh, pola makan, serta aktivitas fisik yang menurun. Oleh karena itu, penting bagi keluarga untuk memahami penyebab dan cara mengatasi lansia yang tidak bisa BAB dengan tepat.
Dengan penanganan yang benar, lansia tetap dapat merasa nyaman dan terhindar dari risiko gangguan kesehatan yang lebih serius.
Apa Itu Konstipasi pada Lansia?

Konstipasi adalah kondisi ketika seseorang mengalami kesulitan buang air besar, frekuensi BAB yang jarang, atau tinja yang keras dan sulit dikeluarkan.
Mengutip National Institute on Aging (NIA), lansia lebih rentan mengalami konstipasi karena sistem pencernaan bekerja lebih lambat dibandingkan usia muda.
Penyebab Lansia Tidak Bisa BAB
Beberapa faktor yang menyebabkan lansia mengalami konstipasi antara lain:
1. Kurangnya Asupan Serat
Serat membantu memperlancar pergerakan usus. Lansia yang jarang mengonsumsi buah dan sayur berisiko mengalami sembelit.
2. Kurang Minum Air
Dehidrasi dapat membuat tinja menjadi keras sehingga sulit dikeluarkan.
3. Kurang Aktivitas Fisik
Lansia yang jarang bergerak atau lebih banyak berbaring memiliki sistem pencernaan yang lebih lambat.
4. Efek Samping Obat
Beberapa obat seperti obat nyeri, antidepresan, atau suplemen zat besi dapat menyebabkan konstipasi.
5. Penyakit Tertentu
Kondisi seperti stroke, diabetes, atau gangguan saraf dapat memengaruhi fungsi usus.
Baca juga: Lansia Gelisah di Malam Hari? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya di Rumah
Tanda-Tanda Konstipasi yang Perlu Diwaspadai
Beberapa gejala yang sering muncul antara lain:
- BAB kurang dari 3 kali dalam seminggu
- Tinja keras dan kering
- Perut terasa kembung
- Rasa tidak tuntas setelah BAB
- Nyeri saat buang air besar
Jika kondisi ini berlangsung lama, perlu penanganan lebih lanjut.
Risiko Jika Lansia Tidak Bisa BAB Terlalu Lama
Melansir dari National Health Service (NHS), konstipasi yang tidak ditangani dapat menyebabkan komplikasi seperti:
- Wasir (ambeien)
- Luka pada anus
- Penumpukan tinja (impaksi fekal)
- Penurunan nafsu makan
Karena itu, penting untuk segera melakukan perawatan yang tepat.
Cara Mengatasi Lansia Tidak Bisa BAB di Rumah

Penanganan konstipasi pada lansia tidak bisa dilakukan secara asal, karena kondisi tubuh lansia cenderung lebih sensitif. Perawatan yang tepat perlu dilakukan secara konsisten agar hasilnya optimal dan mencegah komplikasi.
1. Meningkatkan Asupan Serat
Serat berperan penting dalam membantu pergerakan usus dan melunakkan tinja. Lansia disarankan mengonsumsi makanan tinggi serat seperti sayuran hijau, buah-buahan (pepaya, pisang), serta biji-bijian.
Namun, peningkatan serat sebaiknya dilakukan secara bertahap. Jika terlalu mendadak, justru dapat menyebabkan perut kembung atau tidak nyaman.
2. Memastikan Cukup Cairan
Cairan membantu menjaga tekstur tinja tetap lunak sehingga lebih mudah dikeluarkan. Lansia sering kali kurang minum karena tidak merasa haus, sehingga keluarga perlu memastikan kebutuhan cairan tetap terpenuhi.
Air putih adalah pilihan terbaik, namun bisa juga ditambah dengan sup atau jus buah tanpa gula berlebihan.
3. Mendorong Aktivitas Fisik Ringan
Aktivitas fisik membantu merangsang gerakan usus (peristaltik). Lansia tidak perlu melakukan olahraga berat, cukup dengan berjalan ringan, peregangan, atau aktivitas sederhana di rumah.
Bagi lansia yang tidak bisa berjalan, latihan gerak pasif dengan bantuan keluarga atau perawat juga dapat membantu.
4. Membuat Jadwal BAB Teratur
Membiasakan lansia untuk BAB di waktu yang sama setiap hari dapat membantu tubuh membentuk pola alami. Waktu terbaik biasanya setelah makan karena refleks usus sedang aktif.
Pastikan lansia tidak terburu-buru dan memiliki waktu yang cukup di toilet agar proses BAB lebih nyaman.
5. Menghindari Menahan BAB
Menahan keinginan BAB dapat membuat tinja semakin keras dan sulit dikeluarkan. Ajarkan lansia untuk segera ke toilet saat muncul dorongan BAB, sekecil apapun.
Kebiasaan ini penting untuk mencegah konstipasi menjadi lebih parah.
6. Menggunakan Bantuan Medis Jika Diperlukan
Jika cara alami tidak berhasil, tenaga medis mungkin akan menyarankan penggunaan obat pencahar, supositoria, atau tindakan lain sesuai kondisi pasien.
Penggunaan obat tidak boleh sembarangan dan harus dalam pengawasan tenaga kesehatan untuk menghindari efek samping.
7. Pemantauan Rutin oleh Tenaga Medis
Pada lansia dengan kondisi tertentu seperti stroke atau tirah baring, pemantauan rutin sangat penting. Perawat dapat membantu memantau pola BAB, kondisi perut, serta memberikan intervensi jika diperlukan.
Dengan pemantauan yang tepat, risiko komplikasi seperti impaksi fekal dapat dicegah sejak dini.
Kapan Lansia Harus Mendapatkan Penanganan Medis?
Segera hubungi tenaga medis jika:
- Tidak BAB lebih dari 5 hari
- Mengalami nyeri hebat saat BAB
- Terdapat darah pada tinja
- Perut sangat kembung
Penanganan cepat dapat mencegah komplikasi yang lebih serius.
Baca juga: 7 Tips Memilih Jasa Perawat Homecare yang Aman dan Terpercaya untuk Orang Tua
FAQ Seputar Lansia Tidak Bisa BAB
Apakah konstipasi pada lansia normal?
Cukup umum terjadi, tetapi tidak boleh dianggap sepele jika berlangsung lama.
Apakah boleh menggunakan obat pencahar?
Boleh, tetapi sebaiknya sesuai anjuran tenaga medis.
Berapa kali BAB yang normal?
Normalnya berkisar 3 kali sehari hingga 3 kali seminggu.
Perawatan Lansia Lebih Nyaman dengan Bantuan Profesional dari Insan Medika
Lansia yang mengalami konstipasi membutuhkan perhatian khusus, terutama dalam pola makan, aktivitas, dan pemantauan kondisi kesehatan. Tanpa penanganan yang tepat, kondisi ini dapat mengganggu kenyamanan dan kesehatan secara keseluruhan.
Insan Medika menyediakan layanan perawat home care profesional yang siap membantu perawatan lansia di rumah, termasuk pemantauan kondisi kesehatan, membantu aktivitas harian, serta memberikan edukasi kepada keluarga agar lansia mendapatkan perawatan yang optimal.














