Difteri, Sang Penyakit Mematikan

Indonesia, menjadi siaga satu kasus difteri, beberapa bulan terakhir ini hangat diperbincangkan. Penyakit ini tengah mewabah dan menjadi sorotan. Bahkan pemerintah lewat Kementrian Kesehatan telah menetapkan hal ini sebagai Kejadian Luar Biasa.

Difteri adalah suatu penyakit saluran pernapasan akut yang disebabkan oleh toksin dari bakteri Corynebacterium diphtheriae. Ketika Anda mengalaminya, tenggorokan Anda akan terasa sakit disertai dengan demam dan tubuh Anda akan melemah. Selain itu, Anda juga akan mengalami sesak napas karena saluran di tenggorokan Anda terblokir oleh selaput tebal berwarna abu-abu.

Image result for difteri tenggorokan shutterstock

https://news.idntimes.com/indonesia

Penyakit ini sangat menular dan berbahaya. Bakteri dapat menyebar dengan mudah dan cepat. Orang yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah, tidak rutin imunisasi, dan tinggal dalam lingkungan yang penuh sesak cenderung lebih berisiko untuk mengalaminya. Orang yang terinfeksi pun seringkali tidak menyadari jika mereka mengalami penyakit tersebut. Sebab, terkadang, tanda dan gejala dari penyakit ini tidak dirasakan oleh penderitanya.

Racun bakteri dari penyakit ini menyerang jantung dan menyebabkan radang jantung yang berakhir dengan gagal jantung atau jantung tak berfungsi sebagai mana mestinya. Racun bakteri yang menyebabkan gagal jantung inilah yang menyebabkan difteri menjadi penyakit yang berpotensi menyebabkan kematian hanya dalam beberapa hari.

Nila F. Moeloek menegaskan saat ini belum ada cara unuk mencegah difteri selain vaksinasi atau peningkatan kekebalan tubuh. Jadi jangan sampai masih ada yang menolak vaksinasi. Walaupun memang banyak kasus yang mengidap difteri ini anak-anak, tapi tidak menutup kemungkinan orang dewasa juga. 

Pola hidup sehat seperti menjaga kebersihan, serta banyak makan sayur dan buah saja tidak cukup untuk mencegah penyakit difteri. Pencegahan paling efektif untuk penyakit ini adalah dengan imunisasi. Pemberian vaksin DPT dilakukan sebanyak 5 kali, yaitu ketika anak berumur 2 bulan, 3 bulan, 4 bulan, satu setengah tahun, dan lima tahun. Jika anak terlambat diberikan imunisasi, anak masih bisa diberikan imunisasi kejaran sesuai anjuran dokter sebelum usianya 7 tahun.

Image result for difteri tenggorokan shutterstock

https://www.teras.id/life/pat-2/3813/penyakit-difteri

Kendati demikian, masih ada peluang seseorang terkena difteri meski sudah pernah divaksin. Mengutip Antara, Direktur Surveilans dan Karantina Kementerian Kesehatan, Jane Soepardi mengatakan bahwa kekebalan terhadap difteri tidak berlangsung seumur hidup. Rekomendasi untuk tetap menjaga tubuh dari bakteri penyebab penyakit adalah dengan cara vaksin ulang setiap 10 tahun selama seumur hidup.

Tag: articles