Dampak Perceraian Dapat Memengaruhi Kepribadian Anda

Saat ini perceraian seperti hal yang biasa di lingkungan bermasyarakat. Banyak kasus-kasus perceraian yang terjadi, entah dikarenakan perbedaan pendapat, ekonomi, kekerasan dalam rumah tangga, dan beragam alasan lainnya. Namun, sayangnya kebanyakan pasangan yang memilih untuk bercerai cenderung lupa jika perceraian tersebut tidak hanya menyangkut antara suami dan istri saja, ada pula kaitannya pada anak-anak yang mana menjadi buah hati cinta dari sebuah pasangan.

Beberapa hari yang lalu, kabar mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menggugat cerai sang istri, Veronica Tan, ternyata dibenarkan oleh Tarmuzi seorang Panitera Pengadilan Negeri Jakarta Utara pada Jum’at 5 Januari lalu. Sampai saat ini, belum diketahui apa yang menjadi penyebab Ahok menggugat cerai isteri nya itu yang telah memberikan tiga orang anak.

Image result for veronica tan

http://img.bisnis.com/thumb/photos/

Jadi ketika hubungan itu berakhir, apakah berarti kepribadian dasar kita juga berubah?

Dan terkait dengan itu, apakah tipe kepribadian memengaruhi respon kita terhadap perpisahan itu apakah kita cenderung tetap melajang misalnya, atau segera menjalin kembali hubungan serius dengan orang lain?

Jawabannya: pertanyaan ini dapat tergantung pada gender Anda. Studi di AS yang dipublikasikan tahun 2000 menemukan bahwa perceraian memberi dampak berbeda bagi pria dan wanita.

Bagi Wanita

Related image

https://www.dailykos.com/stories/

Mungkin tak disangka-sangka, perempuan yang telah bercerai menunjukkan tanda-tanda peningkatan sifat ekstravert (sifat yang menggambarkan kepribadian sangat spesifik yang meliputi perilaku supel, beramah-tamah, dan cenderung mencari kesenangan) dan terbuka terhadap pengalaman baru, yang menurut para peneliti disebabkan dampak membebaskan dari berakhirnya hubungan.

Bagi Pria

Related image

http://naturaldepressionsolution.com/

Sabaliknya, pria yang bercerai tampaknya menjadi kurang bertanggung jawab dan emosinya tidak stabil, peneliti mengatakan mereka tampaknya merasa akhir hubungan mematahkan semangat.

Namun tidak semua studi di atas membenarkan hal tersebut. Sekelompok peneliti Jerman mengukur ciri kepribadian lebih dari 500 pria dan wanita paruh baya dari 12 tahun terakhir. Mereka menemukan bahwa pria dan wanita yang bercerai menjadi kurang ekstravert. Penjelasan dari penelitian ini ialah mereka jadi lebih jarang bersosialisai dan berperilaku secara ekstravert.

Peneliti berpendapat bahwa kita tak perlu khawatir. “Kami tidak menemukan bukti bahwa perubahan besar pengalaman ini tidak selalu menandakan ‘kerusakan’ jangka panjang suatu kepribadian”, kata mereka. Dengan kata lain, perpisahan mungkin menyakitkan tapi kita dapat melaluinya.

Yang terjadi ketika kita bercerai dari hubungan serius bukan hanya dampaknya terhadap kepribadian kita. Sementara itu, kepribadian kita juga memengaruhi bagaimana kita merespon perpisahan itu.

Melihat dari penelitian tersebut ada langkah bijak untuk mengantisipasi dampak ini dengan berusaha ekstra untuk membangun persahabatan dan lingkaran sosial baru untuk menghindari kesepian. Tentu saja akhir dari hubungan jangka panjang tak mungkin terasa mudah, namun ingatlah bahwa pengalaman itu tak perlu menentukan siapa diri Anda. Dan jika hubungan itu terasa mengekang, ada bukti bahwa Anda dapat merasakan harapan dan gairah hidup setelah berpisah.

Tag: articles

Akmelia