Apa Itu Penyakit Rhinitis?

Menurut WHO, rhinitis merupakan kelainan pada hidung yang muncul setelah mukosa hidung terkena allergen yang pada prakteknya diperantarai oleh lgE. Rhinitis adalah peradangan dan iritasi yang terjadi di membran mukosa di dalam hidung. Secara garis besar rhinitis dibagi menjadi dua, yaitu rhinitis alergi dan rhinitis nonalergi.

Rhinitis alergi biasanya terjadi ketika alergen tertentu yang mudah terbawa oleh udara terhirup oleh hidung. Rhinitis alergi ada yang terjadi secara musiman (seasonal allergic rhinitis: terjadi pada musim-musim tertentu misalnya saat musim semi dimana, banyak tanaman yang mengeluarkan serbuk sari), dan ada juga yang terjadi selama menahun (perrenial allergic rhinitis: biasanya disebabkan spora jamur, debu, bau-bauan tertentu, rokok, bulu hewan, dll). Sedangkan untuk rhinitis non-alergi bisa disebabkan oleh alergen tertentu namun bukan karena faktor alergi, meskipun gejalanya sama seperti gejala rhinitis alergi.

Penyebab Rhinitis Alergi

Ada beberapa hal yang bisa menyebabkan terjadinya rhinitis alergi, di antaranya adalah sistem kekebalan tubuh yang terlalu sensitif. Sistem kekebalan tubuh alami menganggap alergen berbahaya dan bereaksi dengan memproduksi antibodi untuk melawannya.

Ketika pertama kali terpapar unsur alergen, sistem kekebalan tubuh tidak langsung bereaksi dan menyebabkan gejala alergi. Sistem kekebalan tubuh menjalani proses yang disebut sensitisasi terlebih dahulu, yaitu proses untuk mengenali dan mengingat alergen. Pada paparan berikutnya dengan alergen, sistem kekebalan tubuh akan memproduksi antibodi dan menyebabkan reaksi alergi.

Antibodi akan menyebabkan produksi lendir berlebih dan pembengkakan lapisan dalam hidung. Itu sebabnya penderita rhinitis alergi biasanya akan mengalami gejala-gejala hidung berair atau tersumbat dan bersin-bersin.

Penyebab Rhinitis Non-Alergi

Hampir sama seperti rhinitis alergi, gejalanya meliputi cairan yang berlebihan di hidung dan membengkaknya pembuluh darah di dalam rongga hidung. Namun penyebab rhinitis nonalergi berbeda dengan rhinitis alergi.

Gejala dari rhinitis non-alergi bisa terjadi secara singkat dan bisa juga terjadi dalam jangka panjang. Penyebab utama yang umum terjadi yaitu akibat perubahan cuaca, perubahan suhu/temperatur, suhu dingin, kelembaban udara, perubahan keadaan hormon, stress, makanan tertentu, bau-bauan tertentu, asap rokok, dan polusi udara. Selain itu beberapa jenis rhinitis non-alergi bisa juga disebabkan oleh efek samping obat-obatan tertentu, serta faktor tekanan darah.

Pengobatan Penyakit Rhinitis

Biasanya, dokter akan meresepkan sejumlah obat-obatan tertentu untuk mengendalikan gejala dan keluhan yang terjadi, beberapa diantaranya bisa jadi meliputi golongan antihistamin, kortikosteroid, Dekongestan, Cromolyn natrium, ipratropium (Atrovent) dan leukotriene modifier seperti montelukast (Singulair) atau Zafirlukast (Accolate).

Beberapa jenis obat-obatan tersebut dapat diberikan secara oral maupun disemprotkan pada hidung untuk mengendalikan gejala rhinitis alergi.

Meski begitu, konsumsi obat-obatan tersebut dalam jangka panjang dapat menimbulkan efek samping yang cukup serius seperti mengantuk, iritasi hidung, polip hidung, peningkatan tekanan darah, insomnia, sakit kepala, mudah marah, mimisan, dan sakit tenggorokan.

Jika obat-obatan tersebut tidak membantu sama sekali, dokter akan merekomendasikan suntikan alergi (imunoterapi/terapi desensitisasi) secara regular dalam jangka waktu 3-5 tahun. Dalam prosesnya, sejumlah kecil allergen akan disuntikan pada tubuh Anda.

Diharapkan, tubuh akan membiasakan diri dengan allergen yang menyebabkan rhinitis Anda muncul. Dengan demikian, kebutuhan akan obat-obatan secara otomatis akan dikurangi. Jenis pengobatan ini dinilai sangat efektif pada rhinitis yang disebabkan oleh bulu kucing, debu, tungau, dan serbuk sari tanaman. Selain itu, imunoterapi dapat mencegah perkembangan asma akibat rhinitis.

Tag: articles